Dasar-dasar Pengembangan PAUD Pentingnya Bermain Bagi Anak Usia Dini
A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran pada anak usia dini adalah proses yang paling menentukan dalam pengembangan pola pikir dan pertumbuhan anak. Pada anak usia dini, proses pembelajaran yang ideal dapat dilakukan dengan bermain. Namun sayangnya, banyak orang tua yang meremehkan peran bermain. Bahkan tidak sedikit yang mengabaikannya.
Karakteristik dasar yang berkaitan dengan proses utama dalam pendidikan anak usia dini adalah pembelajaran yang bertumpu pada bermain itu harus mampu meningkatkan motivasi, pilihan beban-tanpa paksaan, menyenangkan dan pelaku terlibat secara aktif. Bila salah satunya tidak terpenuhi, dapat dipastikan bahwa proses belajar-mengajar itu tidak cocok untuk anak usia dini.
Ketidaksensitifan dalam menangani anak usia dini ini diperparah dengan banyaknya orang tua yang seakan menghambat kemandirian anak dengan membantu anak dalam segala hal. Tentu ini menyebabkan anak tidak menjalani masa-masa perkembangan psikologis sebagaimana semestinya. Sebaliknya, orang tua yang jarang melakukan komunikasi dengan anak juga akan menghambat psikologis secara optimal. Yang nampak menjadi fenomena saat ini, banyak orang tua yang memasukkan anaknya pada lembaga pendidkan anak usia dini, bermotif untuk meringankan beban mereka ditengah penat dan beratnya menjalani aktifitas kerja seharian. Orang tua menginginkan anak patuh, dapat berubah seperti apa yang mereka inginkan. Maka tidak mengherankan jika banyak keluhan orang tua tentang anaknya yang diungkapkan kepada pengelola lembaga pendidikan (guru). Mereka berharap guru nantinya akan dapat mengubah prilaku anak seperti keinginan mereka. Sedangkan guru anak usia dini tidak perlu kemudian menuntut anak menjadi seseorang seperti apa yang diinginkan oleh orang tua mereka.
Jelas hal ini menjadi salah kaprah. Tujuan pembelajaran di lembaga pendidikan anak usia dini adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk bereksperimen, bereksplorasi dan mencoba hal-hal baru agar dapat memperoleh pengalaman-pengalaman baru dengan teman-teman sebayanya dengan panduan guru yang kemudian dapat menjadi bekal pembentuk perkembangan anak.
Oleh karena itulah, kami merasa perlunya mengangkat tema bermain ini untuk memberikan pengertian dan penjelasan mengenai pentingnya bermain bagi anak-anak.
B. Pembahasan
Adapun pembahasan dari rumusan masalah di atas sebagai berikut:
1. Bermain adalah pilihan bebas melakukan kegiatan karena adanya motivasi dalam diri anak. Bermain harus menyenangkan. Anak-anak harus merasa senang dalam memperoleh pengalaman melakukan kegiatan tersebut. Bila orang tua memaksakan kehendaknya, anak akan melakukannya dengan motivasi untuk menyenangkan orang tua semata. Di dalam bermain, anak harus terlibat secara aktif. Kegiatan ini melibatkan anak secara fisik maupun psikologis. Bila pelaku kegiatan hanya pasif atau menjadi penonton, maka kegiatan ini tidak dapat dikategorikan sebagai bermain. Contoh, bila seorang guru mengerjakan pekerjaan melipat kertas, anak hanya melihatnya meski nampak antusias dan enjoy, maka aktifitas ini tetap saja tak dapat dikategorikan sebagai kegiatan bermain.
Terkadang orang tua marah saat melihat anaknya yang tak henti-hentinya melakukan permainan. Dari satu permainan ke permainan lainnya tanpa memiliki rasa lelah dan jenuh. Namun sejatinya, anak-anak itu memperlihatkan satu eksplorasi yang membuatnya nampak sebagai sosok yang jenius. Contohnya, ketika anak menemukan sebuah kamera yang tak lagi terpakai, kemudian dia menggunakannya seolah-olah kamera tersebut masih layak pakai. Dia berjalan dari satu sudut rumah ke sudut lainnya. Kemudian berlagak seolah sedang memotret. Ketika kegiatan ini dilakukannya dengan serius, biasanya anak akan marah apabila diganggu orang lain. Anak bahkan akan menangis ketika orang lain mengetahui apa yang telah dilakukannya dengan kamera itu. Karena dia “curiga” kamera itu masih terpakai.
Anak juga kerap kali suka bermain peran, baik secara berkelompok maupun sendirian dan baik itu berperan sebagai orang lain maupun diri sendiri. Bermain peran dapat mengembangkan imajinasi anak sesuai dengan pengalaman yang pernah dikenalnya. Permainan imajinasi membantu anak berkonsentrasi, memperhatikan dan mengontrol diri.
Intinya, bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara spontan, bukan rekayasa serta tidak memiliki motivasi lain, selain mengerjakan sesuatu yang menyenangkan.
2. Hughes (1995) seorang pengajar dari University of Wiscousin Green Bay menyatakan, terdapat lima pandangan utama tentang peran kita ketika anak sedang bermain.
1) Partisipasi aktif dari orang tua, guru dan pendamping akan sangat bermanfaat bagi anak dalam bermain. Sebagai contoh dalam acara bermain tamu-tamuan, atau bermain toko-tokoan, dan lain-lain. Kita dapat menjadi salah satu tamunya atau pembeli/penjual.
2) Kita berperan sebagai fasilitator. Contohnya ketika bermain jual-jualan si anak bertindak sebagai penjual, kita sebagai pembeli. Kita dapat melontarkan beberapa pertanyaan seperti berapakah harga per satuannya?, apakah disini jual susu?, atau apakah bisa harganya dikurangi?, dan sebagainya. Dalam suasana santai, pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat memacu anak untuk memberikan jawaban secara spontan.
3) Intonasi yang tidak meninggi dan berbicara dengan lembut dapat digunakan untuk menghadapi anak yang prilakunya kurang baik. Dengan kelembutan itu kita akan lebih mudah menyentuh perasaan anak. Usaha guru adalah membuat anak mampu menentukan sendiri bagaimana memperbaiki sikapnya. Kelembutan dan kesabaran sangat dibutuhkan dalam berkomunikasi dengan mereka. Diharapkan dengan sikap-sikap kita yang lembut dan sabar mampu membantu mereka untuk berpartisipasi secara aktif dalam membuat segala bentuk peraturan yang berlaku dalam setiap bentuk permainan.
4) Ketika berkomunikasi dengan anak, kita perlu memperhatikan bahasa tubuh mereka. Misalnya pembetulan kalimat-kalimat mereka tidak boleh dipaksakan. Perbaikan dapat dilakukan dengan melakukan pengulangan-pengulangan ujaran anak yang bukan merupakan penggalan-penggalan kata atau kalimat. Mintalah kepada anak untuk selalu menjawab dalam kalimat lengkap, karena hal itu dapat menolong anak membuat hipotesa-hipotesanya.
5) Setiap anak memiliki keunikan tersendiri. Dalam bermain kita dapat melihat keunikan itu secara nyata. Misalnya ada anak yang serius berkonsentrasi menyelesaikan satu proses kegiatan, tapi ada juga yang cepat sekali berpindah kegiatan atau perhatiannya. Oleh karena itu, kita perlu selalu mendampingi mereka dalam bermain. Hal ini untuk mengatasi segala persoalan yang dihadapi tiap anak.
Jane M. Healy, Ph.D (1994) yang mendalami hubungan perkembangan otak dan pembelajaran dari lahir sampai remaja menyatakan bahwa jaringan serabut syaraf akan terbentuk apabila ada kegiatan mental yang aktif dan menyenangkan bagi anak. Setiap respons terhadap penglihatan, bunyi, rasa, bau dan pengecapan akan memperlancar hubungan antar neuron (pusat syaraf). Makin sering otak bekerja, maka ia akan semakin mahir dan terampil. Healy menegaskan,”Setiap anak akan menganyam jaringan intelektualnya.”
Terbentuknya jaringan syaraf tergantung pada minat dan usaha keras anak. Penggunaan seluruh panca indranya dapat mempercepat hubungan-hubungan yang ada diantara simpul syaraf. Di dalam keadaan yang menyenangkan, jalur hubungan sel otaknya akan tumbuh dengan pesat. Dari sini kita mengerti arti penting sarana dan alat bermain serta penggunaan sumber belajar itu. Bermain selain menyenangkan juga membantu anak untuk mampu memahami konsep-konsep dan pengertian secara ilmiah.
Alat permainan adalah semua alat bermain yang digunakan oleh anak untuk memenuhi naluri bermainnya dan memiliki berbagai macam sifat seperti bongkar pasang, mengelompokkan, merangkai, atau menyusun sesuai bentuk utuhnya, dan lain-lain. Sedangkan fungsinya yaitu untuk mengenal lingkungan dan membimbing anak untuk mengenali kekuatan maupun kelemahan dirinya. Anak didik secara aktif melakukan kegiatan permainan dan secara optimal menggunakan seluruh panca indranya secara aktif. Kegiatan atau permainan yang menyenangakan juga akan meningkatkan aktivitas sel otak mereka. Lebih lanjutnya, keaktifan sel otak akan membantu memperlancar proses pembelajaran anak.
Sachiyo Tanaka (psikolog Jepang) mengungkapkan tentang pilihan kegiatan bermain bagi anak. Golongan tingkat kesulitan dan kegiatan dibedakan menjadi 3, yaitu mudah, sedang dan sulit. Untuk itu, kita sebagai pendidik perlu mempersiapkan alat permainan yang memiliki tingkatan kesulitan yang berbeda. Sebagai contoh permainan puzzle. Misalnya, puzzle kelompok mudah memiliki empat potongan. Tingkat sedang memiliki enam sampai sepuluh potongan. Sedangkan tingkat kesulitan yang lebih tinggi memiliki lima belas sampai tiga puluh potongan. Dari tingkat kemampuan inilah guru dapat mengenali kemampuan anak didiknya. Selain itu hasil dari proses bermain yang dilakukan oleh anak yang sesuai dengan tingkat kesulitannya akan membantu anak semakin memahami aturan maupun cara penyelesaian dalam setiap permainan.
Pada intinya, kegunaan alat permainan ini, diantaranya: untuk memberi kesempatan yang lebih banyak kepada anak-anak untuk bereksplorasi, untuk meningkatkan keterampilan berkomunikasi, untuk memberikan kesenangan kepada anak, untuk mengembangkan imajinasi anak, dan lain sebagainya.
C. Kesimpulan
Pada dasarnya, pendidikan anak usia dini adalah pengimplementasian anak terhadap permainan edukatif. Permainaan edukatif itu dapat menggunakan alat yang berupa alat permainan maupun tanpa menggunakan alat seperti bermain peran.
Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara spontan oleh anak , bukan rekayasa serta tidak memiliki motivasi lain selain mengerjakan sesuatu yang menyenangkan. Kegiatan bermain yang dilakukan anak dengan tanpa paksaan akan mengarahkan anak untuk berkembang dalam hal pengembangan cara pikirnya. Dengan begitu, anak mampu mengeksplorasikan dirinya dalam berbagai hal.
D. Saran
Anak bukanlah miniatur atau boneka milik orang dewasa. Mereka memiliki pemikiran-pemikiran dan keinginan-keinginan sendiri. Kita, para guru dan orang tua selaku fasilitatornya selayaknyalah mengarahkan anak kepada permainan-permainan yang edukatif dan yang mampu memberikan stimulus untuk tumbuh kembang anak, sepatutnyalah kita tidak terlalu mengekang anak untuk bermain karena dengan bermain kita bisa mengetahui dan memahami kemampuan anak, tak sepantasnya orang tua terlalu memaksakan keinginan-keinginan mereka terhadap anak karena hal itu dapat menimbulkan keterkekangan ruang gerak anak di dalam mengembangkan kemampuannya. Marilah kita didik mereka dengan penuh rasa cinta, tulus dan penuh kasih sayang dengan menyampingkan keinginan-keinginan kita terhadap mereka.
Daftar Pustaka
- Sudono, Anggani. 2006. Sumber Belajar dan Alat Permainan untuk Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Grasindo.
- Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (Departemen Pendidikan Nasional). Acuan Menu Pembelajaran pada TPA. Jakarta: 2002.
- Shintawati, Dyah. Bermain di PAUD. Oktober, 2009.
Disusun Oleh:
Horriyatul Hasanah
Siti Anni
Siti Rahmah
Subaidah B.
Suhratul Ubabah
Sulastri
Uswatun Hasanah
Zaidatul Maufirah
Incoming search results:
- fenomena anak usia dini dan orang tua
- cara guru berkomunikasi dengan anak
- peran guru/pendamping dalam pendidikan anak usia dini
- pentingnya mengenal karakteristik anak bagi seorang guru
- Pentingnya bermain untuk anak usia dini
- pengembangan permainan AUD
- pengalaman eksperimen pada anak usia dini
- masalah dalam diri anak usia dini
- konsep terapi bermain pada anak tk
- komunikasi anak sesuai proses perkembangan pola pikirnya
Related Posts
- Komponen model pembelajaran Contextual Teaching and Learning
- Ringkasan TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF PIAGET
- Penggunaan Buku Besar (Big Book) dalam Mengembangkan Kemampuan Baca Tulis Anak di Taman Kanak-Kanak “Matsaratul Huda” Panempan Pamekasan
- Upaya Meningkatkan Kualitas Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia Melalui Program Pembelajaran Audio Interaktif Untuk Guru dan Anak Didik
- Peranan sumber belajar dan media dalam PBM
Tags: anak, bermain, metode, paud, setting area, tk
Posted in artikel pendidikan