PRAKTIK PEMBELAJARAN CONSTRUCTIVISME PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI SECARA HOLISTIK: SUATU TINJAUAN KRITIS
Oleh: Dedi Haryono*
Abstract
This Article try to do critical review to the practice of learning in early childhood education, most of this one opperated at Indonesia. This writing at lest to want to propose to the argumentation in order to practice childhood education based on the holistic development, namly throughing chilhood need so that practice learning of constructive could express as being usually. The writer propose in learning environment set as area learning, it mean that by any center activity rich of experiences and this possible to make children interaction with all the object in giving wide of initiative.
Keyword: Early Childhood Education, Constructivism theory, DAP, Learning Area.
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan salah satu bidang strategis untuk memulai upaya pengembangan sumber daya manusia (SDM), disebabkan secara teoritis dan di perkuat temuan-temuan penelitian menunjukkan bahwa peletakan dasar pendidikan mempunyai peluang dan peran yang besar ketika diupayakan sejak usia dini. Tentunya kehidupan masa kanak-kanak mempunyai konsekwensi logis terhadap kehidupan selanjutnya yang akan diejawantahkan pada masa dewasa sebagai akibat dari masa kecilnya. Sehingga masa kanak-kanak diistilahkan sebagai masa emas (golden age), dimana kecerdasan berkembang pesat pada masa tersebut, dan melewati masa ini maka kapasitas kecerdasan akan sulit bertambah lagi. Pernyataan tersebut diperkuat oleh berbagai ahli neurologi bahwa kecerdasan anak berkembang mencapai 50% dari kecerdasannya pada sampai usia 4 tahun, kemudian 80% dari pencapaian kecerdasan pada usia 8 tahun, dan mencapai usia 8-18 tahun kecerdasan pada 100%. Perspektif tersebut memberikan pemahaman penting dalam dunia pendidikan akan pentingnya memperhatikan pendidikan pada masa usia dini, sehingga tindakan pendidikan yang diupayakan pada anak usia dini tidak kemudian menjadi hal yang sangat sederhana, tetapi di respon sebagai perlakuan pendidikan yang luar biasa. Dengan tidak terlalu berebihan, barangkali adanya pergeseran paradigma dalam pendidikan ini, seiring dengan tingkat kesadaran dan kemajuan peradaban manusia, diperkuat lagi dengan hasil-hasil penelitian pada perkembangan manusia maupun pada anak (development research) baik yang dilakukan dengan pendekatan longtudinal study maupun cross lateral study.
Instrumen penting ini ditangkap lebih awal oleh negara-negara maju khususnya Amerika, dimana menjelang tahun 2000 dalam pidato kenegaraannya Presiden Bush mengatakan: ”bahwa menjelang tahun 2000, semua anak Amerika yang akan memulai sekolah, sudah siap belajar”. (Musthafa, 2008). Pernyataan ini berangkat dari satu harapan dan keyakinan bahwa dengan memprioritaskan pelaksanaan pendidikan anak usia dini, negara Amerika tetap tampil progressif dan bertahan menjadi pioner bagi negara-negara lain masa kini dan masa depan. Karena upaya tersebut merupakan program jangka panjang yang dapat menentukan nasib negara, khususnya dalam hal ini bangsa Amerika. Suatu terobosan yang luar biasa yang dilakukan oleh sebuah negara adi daya dalam rangka untuk mempertahankan sebuah identitas kedepan dan menciptakan SDM yang lebih terkemuka, dan terdepan dari bangsa-bangsa lain, maka PAUD menjadi kunci penting untuk garapan strategis yang perlu dikedepankan.
Sepanjang perjalanannya, pernyataan tersebut dilirik oleh negara-negara yang lain. Salah satunya negara Indonesia, yang awalnya lebih memprioritaskan dalam aspek pendidikan yang lain seperti program penuntasan wajib belajar sembilan tahun (WAJARDIKDAS), dan pengembangan perguruan tinggi (PT), menjadi serius untuk menatap dunia PAUD. Dimana-mana melalui dinas yang ada di Daerah, PAUD menjadi virus yang sangat cepat. Dan berbagai model kampanye, entah itu sebagai terobosan politik atau pendidikan. Akan tetapi pada kenyataannya, yang dilakukan di negara kita lebih pada ikut-ikutan tidak kemudian kebijakan tersebut di implementasikan secara utuh. Direktorat PAUD saja baru terbentuk pada tahun 2001, padahal praktik pembelajaran PAUD seperti Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak sudah berjalan jauh sebelumnya. Artinya PAUD sebelum dan selama era atau kurang lebih dalam dasawarsa lalu, barang tentu dapat di niscayakan berjalan tanpa ada kendali, ditambah fenomena bahwa lebih diterapkan berdasarkan insting dari pada kompetensi. Belum lagi praktik pembelajaran yang dilakukan pada PAUD yang ada diwilayah Indonesia selama ini, apakah sudah benar dan sesuai ditinjau dalam perspektif teoritis, karena dalam kaidah keilmuan, teori merupakan pengukur sehingga konsep dan praktik dapat dinyatakan sesuai dan terukur (measure). Belum lagi kenyataan yang kita hadapi bahwa menurut data Angka Partisipasi Kasar (APK) bahwa sampai Tahun 2008 yang dapat disentuh oleh PAUD formal dan non formal masih berkisar 50,03 persen dari 29,8 juta anak (DEPDIKNAS, 2009). Artinya masih ada belasan juta anak yang belum tersentuh PAUD baik formal maupun non formal, walaupun pemerintah telah menargetkan 53,9 persen pada tahun 2009, tetapi ini tentunya belum memberikan suatu kepastian bahwa PAUD masih dapat tersentuh oleh semua anak usia dini yang ada dinegara ini, ada sebuah konklusi yang dapat ditarik dari fenomena ini, bahwa dari aspek kuantitas kita masih kurang apalagi dari aspek kualitas. Hal ini bijaknya bukan dipahami sebagai dimensi permasalahan, tetapi lebih tepatnya pada kompleksitas permasalahan. Kompleksitas persoalan ini adalah kenyataan pahit yang harus dicarikan jalan keluarnya dan menuntut perombakan besar-besaran dan cepat sehingga arah dan praktik pada pendidikan anak usia dini tidak terlalu memprihatinkan.
Rekonstruksi dimaksud tentunya bagaimana salah satunya mengupayakan agar praktik pembelajaran berjalan sesuai dengan teori-teori yang dipakai dalam ke PAUD an. Tidak mungkin kemudian pembelajaran dibiarkan berjalan alamiah tanpa ada landasan pendekatan yang sesuai dengan keilmuan. Sehingga PAUD akhirnya dapat dilaksanakan dan dimaknai secara menyeluruh dan utuh. Tentunya praktik yang sesuai dengan kesepakatan sebagaimana yang dikeluarkan oleh NAEYC (National Association of Early Young Childhood) yaitu Developmentally Appropriate Practices (DAP) atau praktik yang sesuai dengan perkembangan (Wortham, 2006). Dimana pendekatan pembelajaran pada anak usia dini tidak lagi berdasarkan pembelajaran sebagaimana yang dilaksanakan terhadap pembelajar dewasa. Kurikulum dirancang agar berpusat pada anak, dengan kata lain bahwa anak sebagai subjek dalam kegiatan pembelajaran. Diharapkan dengan penerapan DAP bahwa guru memahami tahapan-tahapan perkembangan anak, yang hal ini menjadi tolok ukur bagi perencanaan program, penerapan dan evaluasi dalam pembelajaran, sampai dalam tataran teknis salah-satunya adalah bagaimana akhirnya dapat tercipta kelas yang berpusat pada anak. Tidak ada lagi toleransi bagi anggapan anak sebagai miniatur orang dewasa. Tetapi harus dipahami bahwa anak merupakan pembangun makna yang aktif, subjek dan sekaligus pembelajar, tidak lagi sebagai objek orang dewasa ataupun guru. Untuk mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada anak maka tentunya dibutuhkan pemikiran yang juga berpusat pada anak, pemikiran yang berorientasi pada kebutuhan anak, dan pelayananan yang mengedepankan anak, untuk kemudian dapat termanifestasikan dengan utuh dalam segala aspek pendidikan baik program, praktik pembelajaran, maupun kurikulum.
Sementara fenomena yang ada, dalam tataran wacana PAUD di Indonesia kesannya sudah mengarah pada pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan, tetapi tidak sedikit dijumpai dalam praktiknya pembelajaran justru berkutat dengan pendekatan prilaku. Hal ini terjadi, menurut asumsi penulis kurangnya memahami DAP dan prinsip-prinsipnya, yang kemudian menjadi pemicu adanya ada lompatan teori dan pemahaman yang kemudian menjadikan PAUD dari sisi wacana mengarah pada teori yang lebih kontemporer, tetapi dalam praktiknya tetap bertahan dalam teori klassik, yang tentunya ini tidak dapat dibenarkan dalam kaidah keilmuan. Masalah anak-anak tidak dilihat sebagai hal yang sangat sederhana, tetapi masalah anak-anak dapat dilihat sebagai yang paling berdampak langsung pada arah pendidikan dan SDM bangsa kedepan, dengan paradigma ini PAUD semestinya hadir sebagai wadah potensial dan strategis bagi negara ini untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain. Tentunya dengan sikap yang serius untuk menyeimbangkan kebijakan dan pelaksanaan program, salah satunya termasuk permasalahan desain dan model pembelajaran pada PAUD yang harus memiliki kerangka acuan yang jelas dan dibenarkan secara teoritis, karena kita tidak dapat mempertahankan diri terus-menerus melakukan praktik-praktik yang tidak sesuai dengan normatif keilmuan. Untuk itu dalam penulisan ini, berupaya memamparkan bagaimana konstruktivisme yang merupakan cikal bakal DAP dapat dipahamami secara holistik. Sehingga PAUD hadir menjadi pendidikan yang lebih bergizi.
Konstruktivisme sebagai semangat DAP
PAUD dalam kajian historis yang singkat ini, konon di awali dengan munculnya Behaviorist Theory atau Teori prilaku, pendekatan klasik ini di ilhami dengan Operant Conditioning Model, atau peran pengkodisian yang akhirnya dapat membentuk prilaku anak. Teori ini mengasumsikan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Pavlov melalui eksperimennya terhadap anjing yang kemudian melahirkan istilah stimulus dan respon. Pavlov dalam uji cobanya, menkondisikan bel dan makanan untuk melihat respon pada anjing. Ketika bel dibunyikan setelah itu makanan dikeluarkan, hal tersebut dilakukan berulang-ulang. Akhirnya pada waktu selanjutnya anjing dapat memahami bahwa ketika bel dibunyikan maka pada saat itu makanan telah tersedia, hal ini dapat ditunjukkan oleh air liur yang keluar dari lidah anjing, bel dan makanan disebut sebagai stimulus yang tak terkondisi sedangkan air liur disebut stimulus terkondisi. Sehingga stimulus dan respon menjadi salah satu inspirasi bagaimana menerapkan pendidikan bagi manusia, salah satu implementasinya adalah orang dewasa memberikan stimulus dan anak-anak meresponnya, pengulangan menjadi prioritas dalam pembelajaran ini. Lebih tepatnya teori ini berkembang dengan adanya penerapan penghargaan (reward) dan hukuman (punishment). Implementasinya pada pendidikan adalah pembiasaan dengan memberikan penghargaan dan hukuman untuk membentuk prilaku peserta didik. Tokoh-tokoh terkemuka dari aliran behavior ini adalah John B. Watson (1878-1985), Edward Thorndike (1874-1949), B.F Skinner (1904-1990) (Brewer, 2007: 6). Sebagaimana yang dikemukakan Pamela, et al (2000: 6):
”Pendekatan prilaku menganggap bahwa konsep-konsep tidaklah berasal dari dalam diri anak dan tidak berkembang secara spontan. Konsep-konsep tersebut harus ditanamkan pada anak dan diserap oleh anak. Kelas yang menganut konsep prilaku ini menggunakan pengajaran yang berpusat pada guru, berdasarkan pengajaran yang bersifat eksplisit yang ”mengisi” anak-anak sepanjang waktu… guru memberikan informasi khusus dengan cara menggurui…”.
Setelah Teori Behavior kemudian berkembang dan muncul Teori Konstruktifis (Constructivisme Theory) yang dipelopori oleh Jean Piaget (1896-1980) dan Lev Vygotsky (1896-1934), konstuktivisme meyakini bahwa anak-anak dapat mengembangkan diri akibat proses interaksi dengan lingkungannya, anak-anak tidak dinilai sebagai manusia yang pasif dalam menerima pengetahuan dan merespon lingkungannya (Brewer, 2007: 8). Dalam hal ini, lingkungan belajar yang terkontekstualisasikan menjadi penting bagi pembelajaran anak usia dini. Pembelajaran terjadi ketika anak berusaha memahami lingkungannya. Interaksi antara lingkungan dan anak tidak dipahami terjadi dalam ruang yang kosong. Sehingga anak-anak lebih tampil sebagai manusia yang mampu membentuk pengetahuannya sendiri. Peran orang dewasa (pendidik) hadir sebagai fasilitator yang dapat melayani dan melengkapi kebutuhan mereka, yang dalam perkembangannya dalam tindakan pendidikan di wujudkan dengan kurikulum yang berpusat pada anak (Child Centered Curriculum). Jika dalam teori behavior menganggap anak sebagai yang kosong dan pasif tetapi dalam konstruktivisme berlaku sebaliknya, jika behaviorisme menggunakan pendekatan prilaku, bagi konstruktivisme memakai pendekatan perkembangan. Sehingga kemudian konstruktivisme semakin diyakini menjadi pendekatan yang diniscayakan bagi pembelajaran anak usia dini, dan menggeser pemahaman yang dilemparkan kalangan behaviorist sebagai wujud semakin berkembang dan majunya ilmu pengetahuan. Melihat bahwa konstruktfisme sebagai cikal bakal munculnya DAP, maka pembelajaran perspektif konstruktivisme menjadi semangat dalam prinsip-prinsip pembelajaran yang memakai atribut pendekatan DAP tanpa adanya tawar-menawar dan kompromi, dan dilakukan secara holistik atau tidak parsial.
Tahapan perkembangan yang dihasilkan oleh Jean Piaget; Ericson, Bruner, telah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi arah PAUD (Early Childhood Education). Termasuk penerapan pada pendidikan dasar (elementary education). Pemahaman ini telah memberikan kesadaran bagi pandangan dunia pendidikan bahwa anak-anak tumbuh berkembang secara kuantitatif maupun kualitatif mengikuti tahapan dan pola-pola tetentu yang dapat diperkirakan, walaupun kadang ada perbedaan didalam kecepatannya antara anak yang satu dengan yang lainnya. Tahapan-tahapan perkembangan tersebut telah memberikan pemaknaan yang sejati akan pentingya menghargai eksistensi dan tumbuh kembang anak usia dini. keberadaan anak tidak dipandang lagi sebagai pembelajar yang pasif, tetapi pembelajar dan pembangun makna yang aktif. Hal ini yang kemudian menjadi filosofis bagi NAEYC untuk membuat kesepakatan bahwa paraktik pembelajaran harus diterapkan sesuai dengan perkembangan atau di kenal dengan istilah Developmentally Appropriate Practices (DAP), dengan pengertian 2 poin penting yaitu sesuai dengan usia dan sesuai dengan individu. Sesuai usia, disini lingkungan maupun alat sesuai dengan standart perkembangannya, sesuai untuk kemudian lingkungan memberikan ruang yang bebas dan menantang agar anak berkembang. Serta sesuai dengan individu dengan pengertian bahwa setiap anak mempunyai latar belakang berbeda, baik secara kultur maupun pembawaan, sesuai individu disini juga sekolah harus melihat anak bahwa mereka telah memiliki bangunan pengetahuan yang diperolehnya dari proses interaksi baik dalam lingkungan keluarga maupun sosial, guru harus dapat membantu bangunan pengetahuan tersebut sehingga terdapat sinergi pengetahuan hasil pemerolehan lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.
Kelas yang Berpusat pada Anak dalam Pembelajaran Konstruktivisme
Weigel (2006) melihat bahwa perkembangan anak tidak terjadi dalam keterasingan, itu berlangsung dalam konteks yang kaya dan luas sebagai akibat dipengaruhi, baik secara langsung maupun yang tidak langsung. Disini faktor pengaruh lingkungan dan orang dewasa mempunyai peran yang sangat penting bagi perkembangan anak. Artefak dan keberadaan alat permainan sangat membantu dalam proses pembelajaran mereka. Sebagaimana hasil penelitian tentang berhasilnya perkembangan anak, dimana banyak ditemukan ketika lingkungan mereka memberikan dukungan dalam konteks yang kaya dan dapat menyediakan pengalaman-pengalaman yang luas bagi anak-anak. Teori Ekologi kemajuan perkembangan anak oleh Bronfenbrenner (Weigel, 2006) memberikan dasar konseptual untuk memahami berbagai pengaruh bagi dimensi perkembangan anak. Pengertian dari teori ekologi Bronfenbrenner, bahwa anak-anak berkembang dalam berbagai konteks sosial dan pentingnya mempelajari berbagai hubungan di antara berbagai konteks ketika mempelajari perkembangan anak. Pembelajaran yang berpusat pada anak dengan karakteristik yang unik dari pribadi mereka, dan pengalaman akan mempengaruhi tahapan perkembangan mereka. Teori ini menjelaskan pengaruh lingkungan sebagai sesuatu yang memiliki pengaruh langsung kepada mereka. Perkembangan anak dalam teori ini tidak lepas dari lingkungan dan bentuk perlakuan orang dewasa. Lingkungan dan interaksi anak dengan orang dewasa dipandang sebagai kausalitas yang tidak berlalu begitu saja tanpa adanya pengaruh dari interaksi.
Piaget (Puckett 1996: 16-17) banyak berpendapat bahwa anak-anak melalui interaksi mereka dengan lingkungan dan beradaptasi dan menambah susunan pada otak sebagai informasi yang baru, hal tersebut dijabarkan dengan jelas dalam teori schemata. Piaget percaya bahwa pemikiran anak-anak berkembang menurut tahap-tahap atau periode-periode yang terus bertambah dan kompleks. Menurut teori tahapan Piaget, setiap individu akan melewati serangkaian perubahan kualitatif yang bersifat invariant, selalu tetap, tidak melompat atau mundur. Perubahan kualitatif ini terjadi karena tekanan biologis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan serta adanya pengorganisasian struktur berfikir. Untuk menunjukan struktur kognitif yang mendasari pola-pola tingkah laku yang terorganisir, Piaget menggunakan istilah skema dan adaptasi. Dengan kedua komponen ini berarti bahwa kognisi merupakan sistem yang selalu di organisir dan di adaptasi, sehingga memungkinkan individu beradaptasi dengan lingkungannya. Skema (struktur kognitif) adalah proses atau cara mengorganisir dan merespons berbagai pengalaman. Sehingga peran sekolah dalam artikel ini sangat penting menciptakan lingkungan yang dapat menyajikan kekayaan informasi, pengalaman-pengalaman (experiences). Karena bagaimanapun apa yang diamati anak akan direkam dalam struktur otaknya, pengalaman yang dihadapi anak pada masa kini, menuntut pengalaman yang berkaitan dari perekaman pengalaman masa lalu, yang akan dikembangkan anak secara kualitatif dalam struktuf koginitif (skema), mengembangkan pengetahuannya dari hasil berbagai pengalaman yang disebabkan interaksi dengan lingkungan tersebut. Hal ini yang kemudian kita tidak dapat memandang bahwa anak tidak dapat mengembangkan pengetahuan, pembelajar pasif, atau berbagai atribut yang cendrung diskriminatif bagi eksistensi anak.
Setting area pembelajaran adalah paling memungkinkan bagi kayanya interaksi anak dengan lingkungan, area pembelajaran di kemas dengan menarik pada pendidikan anak usia dini, tentunya dengan setting area pembelajaran dapat melayani tumbuh kembang anak dengan baik (Grow and Smart), pada PAUD yang menganut konstruktivisme, kelas tidak lagi di atur sebagaimana kondisi klasik dengan model operant conditioning, yaitu berhadap-hadapan antara guru dan peserta didik, karena model seperti ini mencerminkan sebagai guru sebagai orang dewasa yang ingin menstransfer ilmu pengetahuan terhadap anak, adanya pembiasaan disiplin dan ketat, pembelajaran yang menggunakan pendekatan prilaku dengan memakai senjata yang disebut reward and punishment, anak tidak banyak mempunyai kebebasan untuk memilih, yang akhirnya ini akan menjadi benih bagi mereka kelak menjadi kurang berinisiatif, lebih pada menunggu dan pasif daripada membuat terobosan-terobosan.
Lingkungan kelas dalam konteks area pembelajaran lebih menekankan pentingnya menyajikan kekayaan yang dapat dijelajahi anak dan memungkinkan dapat interaksi dengan peralatan (tools), pembelajaran dikemas dalam permainan sebagai manifestasi melayani dunia anak-anak, Belajar melalui Bermain (BMB), dan pembagian area-area yang menarik dan cocok bagi domain perkembangan mereka. Anak diberikan banyak pemilihan sehingga akhirnya mereka yang berinisiatif, membuat rencananya sendiri (planner), atau menyusun rencana bersama teman sebayanya, sehingga proses tersebut mengarah pada terciptanya pembelajaran melalui teman sebaya (peer learning) yang tentunya menjadi faktor pendukung bagi domain perkembangan sosial.
Individualisasi Pengalaman Belajar Melalui Bermain
Pembelajaran yang berpusat pada anak membutuhkan suatu pencapaian untuk mengantarkan anak dengan kekayaan pengalaman yang di bangunnya sendiri, karena tugas sekolah hakikatnya untuk mengantarkan anak menuju proses pendewasaannya, kemandirian berfikir. Sehingga mampu berdaya saing (kompetitif). Misi sekolah ini sulit tercapai tanpa adanya individualisasi pengalaman belajar yang di setting sedemikian rupa ke dalam rencana pembelajaran ataupun kurikulum. Sekolah tidak dapat menerapkan pencapaian belajar yang sifatnya massal. Karena semua anak harus dipandang dari sudut atas keunikannya masing-masing, yang mengarah pada pengembangan potensinya masing-masing. Individualisasi pengalaman belajar disini dengan satu pendekatan memberikan kebebasan pada anak untuk memilih dan menentukan alat dan bentuk permainan di dalam kegiatan bermain. Inisiatif yang berbeda diantara anak-anak dipandang sebagai keberagaman baik yang dipengaruhi oleh pembawaan, lingkungan maupun kultur masing-masing, yang tentunya dalam hal ini harus dipahami sebagai kekayaan hakiki. Hadirnya keberagaman ini juga mencerminkan bahwa sekolah mencerminkan miniatur masyarakat, yang terbangun dari ke anekarangaman dari setiap individu dan kelompok dalam masyarakat
Individualisasi pengalaman belajar, mempercayakan kepada setiap anak sebagai pembelajar yang aktif, upaya ini memberikan harapan bahwa anak memiliki keleluasaan dalam memilih serta berencana. Searah dengan tujuan pendidikan yang salah satunya adalah tercermin adanya pengembangan potensi individu masing-masing. Melalui individualisasi pengalaman belajar akan lebih memungkinkan tercapainya tujuan tersebut. Serta lebih memungkinkan di ciptakannya generasi pembelajar yang mempunyai kemandirian berfikir dan identitas yang lebih jelas. Berbeda dengan pembelajaran dengan model konvensional, pembelajaran cenderung menyeragamkan keberagaman individu,yang akhirnya potensi dari masing-masing anak tidak dapat terdeteksi ketika dihadapkan pada suasana belajar yang tidak massal.
Pamela, et al (2000) mengemukakan, bahwa proses individualisasi dicapai dengan menghargai tahapan perkembangan setiap anak dan merencanakan serangkaian kegiatan yang sesuai untuk memastikan pengalaman yang berhasil dari masing-masing anak. Setting pembelajaran individu disini lebih mengisyaratkan untuk kemudian lebih memungkinkan memenuhi kebutuhan setiap individu dalam tahapan perkembangan. Anak-anak sebagai pembelajar di pandang dari keberagamannya masing-masing. Searah dengan pandangan ini, Fischer, John (Brewer, Jo An, 2007) setiap anak harus dilihat sejajar dalam pelayanan, bukan semua menjadi sejajar, tetapi menjadi berbeda untuk dinyatakan ke dalam posisi dari setiap ke unikan potensinya.
Mencermati individualisasi pengalaman belajar yang lebih berfokus pada setiap anak, bukan berarti menghadirkan suatu kekhawatiran pada suatu lemahnya dalam domain perkembangan sosial. Interaksi sosial dalam individualisasi belajar terjadi, lebih dibangun oleh anak itu sendiri, misalnya ketika anak bertukar mainan (kontrak sosial), atau melakukan rencana dengan temannya ketika bermain. Lebihnya indikator-indikator perkembangan sosial disini hadir dan terbangun berangkat dari individu anak. Selain hal tersebut,
Setting Area Pembelajaran
Dasar perencanaan kurikulum dalam praktik yang sesuai dengan perkembangan atau Developmentally Approriate Practice (DAP), dapat melayani kebutuhan perkembangan di dalam semua area: sosial, emosional, physical dan intelektual, dengan tersedianya berbagai konten yang sesuai dengan kehidupan anak-anak (Brewer, Jo An, 2007). Kurikulum hadir sebagai kurikulum yang berorientasi pada kebutuhan anak. Karena anak-anak selalu mengalami pengalaman baru dalam struktur yang ada di memori otak, berdampak pada bahasa, kognitif, sosial, emosi dan perkembangan anak-anak setiap saat. Karena itu, pengetahuan tersebut tidak bisa diberikan langsung dengan model instruksi dari guru ke peserta didik, tetapi harus dibangun oleh anak-anak sendiri sebagai penyediaan informasi yang baru.
Tentunya pemenuhan tersebut paling mungkin dengan setting area pembelajaran. Area pembelajaran pada kelas yang berpusat pada anak di ikuti dengan pertimbangan; (1) memberikan banyak pilihan bagi anak (2) menantang (3) sesuai dengan perkembangan. Dengan setting area pembelajaran lingkungan kelas di set sedemikian rupa menjadi pusat-pusat pembelajaran, pusat-pusat kegiatan yang beraneka sesuai dengan kebutuhan perkembangan, yang memberikan kesempatan pada anak untuk berindividulaisasi atas prakarsa mereka sendiri berdasarkan keterampilan dan minat yang dimiliki anak.
Pamela, et al (2000) menawarkan setting pusat pembelajaran menjadi pusat-pusat kegaiatan utama menjadi beberapa bagian; (1) seni, (2), permainan balok, (3) memasak, (4) drama peran, (5) literasi, (6) matematika, (7) Musik, (8) pasir dan air, (9) sains, (10) kegiatan diluar kelas. Berbagai bahan untuk memfasilitasi tumbuh kembang anak, serta memberikan keleluasaan untuk melakukan pemilihan pada pusat-pusat kegiatan. Anak melakukan eksplorasi dengan berbagai objek yang diminati untuk kemudian mendapatkan kemampuan dan percaya diri. Kelas yang berpusat pada anak merupakan lingkungan yang dinamis dan dirancang sarat dengan bahan-bahan ajar dan pengalaman-pengalaman yang dirancang agar sesuai dengan perkembangan anak. Jika dalam pembelajaran model klassik lebih pada instruksi langsung agar anak memiliki nalar intelektual, tetapi dengan set area pembelajaran lebih bertujuan agar anak berinisiatif dan memiliki kemampuan intelektual, serta terlayani tugas perkembangannya dalam berbagai aspek yang pemerolehannya didapatkan oleh anak itu sendiri.
Set area pembelajaran bukan kemudian menghilangkan peran guru, karena model ini lebih menempatkan guru pada porsinya, yaitu sebagai (1) planner, (2) Observer, (3) diagnoser, dan (4) evaluator. Sehingga dengan posisi tersebut guru lebih tampil sebagai pendidik yang melayani kebutuhan pembelajar, mengatur kelas menjadi laboratorium yang menyenangkan bagi anak untuk melakukan uji coba, misalnya pada pusat sains. Serta yang tak kalah pentingnya disini guru dalam pusat area pembelajaran agar dapat menghargai berbagai pendapat anak-anak dan menyusunnya untuk membentuk metodelogi.
Simpulan
Praktik pempelajaran pada PAUD, yaitu dengan mengarahkan praktik pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan atau Developmentally Approriate Practice (DAP), sesuai dengan usia dan sesuai dengan individu. anak-anak tidak lagi dipahami sebagai pembelajar yang pasif sebagaimana dalam teori behavior, tetapi lebih di pandang sebagai subjek pembelajar yang aktif.
Ke hadiran DAP tentunya di ilhami semangat kontsruktivisme theory, yang memandang bahwa anak sebagai pembangun makna yang aktif. Interaksi anak dengan objek, lingkungan di pandang sebagai kausalitas untuk membentuk pengetahuannya. Pun dalam konstruktivisme melihat bahwa pengetahuan di bangun oleh dalam diri anak melalui penambahan informasi yang baru ke dalam schema kognitif.
Setting area pembelajaran lebih memungkinkan bagi anak membangun pengetahuannya sendiri, serta menfasilitasi setiap domain perkembangan. Karena dengan setting area pembelajaran anak diberikan keleluasaan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan kebutuhan minat dan bakatnya. Serta lebih memungkinkan juga untuk diperolehnya individualisasi pengalaman belajar yang diharapkan melalui hal tersebut, anak mempunyai kemandirian dalam berfikir dan melakukan tindakan.
DAFTAR PUSTAKA
Brewer, Jon A. (2007). Introduction to Early Childhood Education. USA: Pearson Education.
Depdiknas. (2009). Target APK Anak Usia Dini Tahun 2009 53,9 Persen. Online tersedia di http://www.depdiknas.go.id/ tanggal akses 22 Desember 2009.
Musthafa, B. (2008). Dari Literasi Dini ke Literasi Teknologi. Bandung: Yayasan CREST.
Pamela, et al. (2000). Menciptakan Kelas yang Berpusat pada Anak (Versi Bahasa Indonesia). USA: Children Resources International, Inc.
Puckett, M, B. & Black, J, K. (1996). The Young Child: Development From Prebirth Trought Age Eigh. USA: Merril Prentice Hall.
Weigel, D. (2006). Identifying Key Early Literacy and School Readiness Issues: Exploring a Strategy for Assessing Community Needs, Dalam Early Childhood Research & Practice [Online], Vol 8 (2), Tersedia http://ecrp.uiuc.edu/v8n2/weigel.html [12 Desember 2008].
Wortham, Sue, C. (2006). Early Childhood Curriculum: Developmental Based for Learning and Teaching. USA: Pearson Merril Prentice Hall.
Author : Dedi Haryono, M.Pd. Sebagai Dosen tetap di FKIP dan FAI Universitas Islam Madura
Perhatian : Dilarang mengcopy article untuk di publikasikan ulang, kalau untuk referensi silahkan pasang sumbernya, atas nama kode etik penulisan dan penghargaan atas kekayaan intelektual
Incoming search results:
Related Posts
- Ringkasan TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF PIAGET
- Dasar-dasar Pengembangan PAUD Pentingnya Bermain Bagi Anak Usia Dini
- Penggunaan Buku Besar (Big Book) dalam Mengembangkan Kemampuan Baca Tulis Anak di Taman Kanak-Kanak “Matsaratul Huda” Panempan Pamekasan
- Upaya Meningkatkan Kualitas Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia Melalui Program Pembelajaran Audio Interaktif Untuk Guru dan Anak Didik
- Peranan sumber belajar dan media dalam PBM
Posted in artikel pendidikan