Strategi pembelajaran bercerita melalui pendekatan konstruktivistik
Posted on | December 16, 2010 | No Comments
PENDAHULUAN
Anak usia dini adalah anak yang berumur 0-6 tahun. Anak usia dini sering disebut dengan istilah golden age atau usia emas, karena pada usia ini anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat pada berbagai aspek. Usia dini terutama di bawah dua tahun menjadi masa yang paling peka dan potensial bagi anak untuk mempelajari sesuatu.
Penanganan anak usia dini khususnya di bidang pendidikan sangat menentukan kualitas pendidikan di masa-masa mendatang. Pada masa usia dini itu kualitas hidup seorang manusia dipancangkan dan memiliki makna dan pengaruh yang luar biasa pada kehidupan yang selanjutnya.
Banyak penanganan atau cara yang dapat kita lakukan untuk anak usia dini dalam meningkatkan potensinya, salah satunya dengan melalui bercerita. Bagi anak-anak, duduk mails menyimak penjelasan dan nasehat merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Sebaliknya duduk berlama-lama menyimak cerita atau dongeng adalah aktivitas yang mengasyikkan. Oleh karenanya, memberikan pelajaran dan nasehat melalui cerita atau dongeng adalah cara mendidik yang bijak dan cerdas. Mendidik dan menasehati anak melalui cerita memberikan efek pemuasan terhadap kebutuhan akan imajinasi dan fantasi anak.
Bercerita memberikan pengalaman psikologis dan linguistik pada anak sesuai minat anak, sesuai tingkat perkembangan dan kebutuhan anak sekaligus menyenangkan bagi anak. Hasil belajar melalui cerita akan bertahan lama karena akan lebih berkesan dan bermakna, mengembangkan ketrampilan berpikir anak dengan permasalahan yang dihadapi.
PENGERTIAN METODE BERCERITA
Strategi pembelajaran ( learning )dapat diartikan sebagai segala usaha guru dalam menerapkan berbagai metode pembelajaran untuk mericapai tujuan yang diharapkan. Dengan demikian strategi pembelajaran menekankan pada bagaimana aktifitas guru mengajar dan aktifitas anak belajar. Macam-macam metode pembelajaran antara lain; berpusat pada anak, bermain, bercerita, bernyanyi dan pembelajaran terpadu (Masitoh, 2008)
Bercerita adalah menuturkan sesuatu yang mengisahkan tentang perbuatan atau suatu kejadian dan disampaikan secara lisan dengan tujuan membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada orang lain. Bercerita dalam konteks komunikasi dapat dikatakan sebagai upaya mempengaruhi orang lain melalui ucapan dan penuturan tentang suatu (ide) pengalaman. Sementara dalam konteks pembelajaran anak usia dini bercerita dapat dikatakan sebagai upaya untuk mengembangkan potensi kemampuan berbahasa anak melalui pendengaran kemudian menuturkannya kembali denagn tujuan melatih ketrampilan anak dalam bercakap-cakap untuk menyampaikan ide dalam bentuk lisan (Bacthiar S. Bachri, 2005)
Pada kurikulum 1994, bercerita dinyatakan sebagai salah satu metode yang dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar. Metode bercerita didefinisikan sebagai cara memberikan penerangan atau bertutur dan menyampaikan cerita secara lisan. Anak sangat menyukai cerita atau dongeng sehingga bentuk metode cerita sangat cocok untuk mengajarkan moral pada anak.
Strategi pembelajaran melalui bercerita merupakan salah satu strategi yang banyak digunakan pada pembelajaran Taman Kanak-kanak, sebagai mana halnya kegiatan pengajaran yang lain, kegiatan itu selalu dimulai dengan merencanakan, melaksanakan dan menilai kegiatan pengajaran. Dikaitkan dengan dunia kehidupan anak, bercerita adalah salah satu strategi pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak. Dunia kehidupan anak penuh dengan suka cita, maka kegiatan bercerita harus diusahakan dapat memberikan perasaan gembira, lucu, dan mengasyikkan untuk dapat menarik perhatian anak.
Bercerita biasanya dilakukan oleh seorang guru dengan membawakan cerita secara lisan dan mengundang perhatian anak namun tidak lepas dari pendidikan anak usia PAUD. Penggunaan cerita sebagai salah satu strategi pembelajaran di PAUD harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Isi cerita harus berkaitan dengan dunia kehidupan anak, sehingga mereka dapat lebih memahami dan menangkap isi cerita, karenaa membahas mengenai hal-hal yang tidak asing bagi mereka.
Kegiatan bercerita diusahakan menarik, asyik, lucu dan memberikan perasaan gembira dan penuh suka cita.
Kegiatan bercerita harus menjadi pengalaman bagi anak yang bersifat unik, menggetarkan perasaan serta dapat memotivasi anak untuk mengikuti cerita sampai tuntas (Masitoh, 2008: 10.3)
Kemampuan bercerita tidak muncul begitu saja, tetapi melalui persiapan yang matang dan latihan terus menerus. Untuk dapat bercerita dengan baik, guru sebaiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Menguasai isi cerita secara tuntas
2. Memiliki ketrampilan bercerita
3. Berlatih dalam irama dan modulasi suara secara terus menerus
4. Menggunakan perlengkapan yang menarik perhatian anak
5. Menciptakan situasi emosional sesuai denagn tuntutan cerita (Masitoh, 2008: 10.3)
Menurut Masitoh, 2008: 10.3, kemampuan guru untuk bercerita dengan baik harus didukung dengan cerita yang baik pula yaitu denagn kriteria:
1. Cerita itu harus menarik dan memikat perhatian guru itu sendiri.
2. Cerita itu harus sesuai dengan kepribadian anak, gaya, dan bakat anak.
3. Cerita itu harus sesuai dengan tingkat usia dan anak mampu memahami isi cerita.
A. MACAM-MACAM TEKNIK BERCERITA
Macam-maeam teknik bercerita, menurut Moeslichatoen, 1996 yaitu :
1. Membaca langsung dari buku cerita
Teknik ini membacakan langsung dari buku cerita yang dimiliki guru sesuai dengan anak terutama dikaitkan dengan pesan-pesan yang tersirat dalam cerita.
2. Bercerita menggunakan ilustrasi gambar dari buku
Teknik ini menggunakan ilustrasi gambar dari buku yang dipilih guru, harus menarik, lucu, sehingga anak dapat mendengarkan dan memusatkan perhatian lebih besar daripada buku cerita. Ilustrasi gambar yang digunakan sebaiknya cukup besar dilihat oleh anak dan berwarna serta urut dalam menggambarkan jalan cerita yang disampaikan.
3. Menceritakan dongeng
Mendongeng merupakan suatu cara untuk meneruskan warisan budaya yang bernilai luhur dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Menceritakan dongeng pada anak membantu anak mengenal budaya leluhurnya dan menyerap pesan-pesan yang terkandung didalamnya.
4. Bercerita dengan menggunakan papan flannel
Teknik ini menekankan pada urutan cerita serta karakter tokoh yang terbuat dari papan flannel yang berwarna netral. Garnbar tokoh-tokoh mewakili perwatakan tokoh cerita yang digunting dengan pola kertas dan ditempelkan pada kain flannel.
5. Bercerita dengan menggunakan boneka
Pemilihan cerita dan boneka tergantung pada usia dan pengalaman anak. Boneka yang digunakan mewakili tokoh cerita yang akan disampaikan
6. Dramatisasi suatu cerita
Teknik ini digunakan untuk memainkan cerita perwatakan tokoh dalam suatu cerita yang disukai anak dan merupakan daya tarik yang bersifat umum (Gordon, Browne, dalam Moeslichatoen, 1996).
7. Bercerita sambil memainkan jari jari tangan
Teknik ini memungkinkan guru berkreasi dengan menggunakan jari jari tangan, dan ini tergantung kreativitas guru dalam memainkan jari jarinya sesuai dengan perwatakan tokoh yang dimainkannya.
STRATEGI PEMBELAJARAN MELALUI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISTIK
Strategi pembelajaran melalui pendekatan konstruktivistik ( constructivism ). Konstruktivistik secara konseptual, proses belajar yang dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi dari satu arah dari luar kedalam diri siswa namun sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi, yang bermuara pada pemutakhiran struktur kognitifnya.
Pemberian makna pada objek dan pengalaman oleh individu tidak dilakukan secara sendiri-sendiri oleh siswa, melainkan melalui interaksi dalam jaringan sosial yang unik, yang terbentuk baik dalam budaya kelas maupun di luar kelas. Menurut pandangan konstruktivistik, belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan yang dimaksud harus dilakukan oleh si belajar dan ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan pemberian makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari.
Dalam belajar konstruktivistik guru atau pendidik berperan membantu agar proses pengkonstruksian belajar oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak menstransfer pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru dituntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang belajar siswa dalam belajar. Guru tidak dapat mengklaim satu-satunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan kemampuannya.
Pendekatan konstruktivistik menekannkan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya tentang sesuatu yang dihadapinya. Dengan cara demikian, siswa akan terbiasa dan terlatih untuk berpikir sendiri, memecahkan masalah yang dihadapinya, mandiri, kritis, kreativ dan mampu pempertanggung jawabkan pemikirannya secara rasional.
PENERAPAN DAN APLIKASI STRATEGI PEMBELAJARAN MELALUI BERCERITA
1. Contoh penerapan dan aplikasi bercerita pada PAUD
PAUD adalah bentuk pendidikan untuk rentang usia 3-6 tahun. Pada masa ini fokus pembelajarannya adalah penanaman, pembinaan perilaku dan sikap melalui pembiasaan yang baik dan kemampuan-kemampuan dasar yang dimiliki anak harus dikembangkan secara optimal dengan berbagai cara. Salah satunya adalah bercerita. Hal-hal yang diperlukan dalam bercerita adalah :
Menentukan tujuan dan tema cerita
Contoh penerapannya:
Tema : Tolong menolong
Tujuan : Mengajarkan anak untuk hidup saling tolong menolong
Mengembangkan kemampuan sosial emosional anak
Menentukan bentuk bercerita yang dipilih
Bentuk-bentuk yang bisa dipilih misalnya membaca langsung dari buku, ilustrasi gambar, dan lain sebagainya. Untuk tema tolong-menolong ini dipilih bentuk bercerita dengan membaca buku cerita. Guru harus dapat memilih buku cerita yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai serta tema yang telah dipilih sebelumnya.
Menetapkan bahan dan alat yang diperlukan dalam kegiatan bercerita.
Sesuai dengan bentuk cerita yang telah dipilih yaitu bercerita dengan membaca buku maka guru harus menyiapkan buku sesuai dengan tema cerita dan memperlihatkan pada anak gambar-gambar yang ada pada buku terebut.
Menetapkan rancangan dan langkah-langkah kegiatan bercerita
Langkah-langkah:
• Mengkomunikasikan tujuan dan tema cerita
• Mengatur tempat duduk
• Anak-anak duduk membentuk lingkaran sehingga akan terjalin komunikasi yang lebih efektif.
Kegiatan pembukaan
Guru mengadakan apresiasi yang sesuai dengan naskah cerita yang dibuat sertaa disesuaikan dengan lingkungan anak.
Contoh:
“Anak-anak siapa yang pernah melihat kecelakaan?”
Saya bu…saya bu…, ya…ya…pintar sekali.
Kalau anak-anak melihat ada orang yang kecelakaan atau mengalami musibah, apa yang akan kalian lakukan?
“Ditolong bu!”.
Kemudian guru memberikan pemahaman dari model perilaku anak.
Pengembangan Cerita
Guru mengembangkan sendiri isi ceritanya, jadi guru tidak hanya mengacu pada kata¬kata atau kalimat yang ada dalam buku cerita tetapi dikembangkan lebih luas lagi dan masih bersangkutan dengan cerita pada buku cerita tersebut.
Menetapkan teknik berkata yang akan digunakan
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan isi cerita Setelah bercerita selesai maka anak-anak diberi pertanyaan.
Contoh:
“Anak-anak siapa yang mengalami kecelakaan?”
Siapa yang menolong bapak itu?. Dibawa kemana bapak yang tertabrak tadi?
Menetapkan rancangan penilaian
Rancangan penilaian harus sesuai dengan pelaksanaan kegiatan serta tujuan dan tema. Misal tujuan dari tolong-menolong adalah menanamkan kebiasaan untuk saling tolong-menolong jika ada teman yang membutuhkan pertolongan.
2. Contoh penerapan dan aplikasi bercerita pada Kelompok Bermain (2-4 tahun)
Kelompok Bermain (KB) adalah wadah pembinaan sebagai usaha kesejahteraan anak dengan menyelenggarakan pendidikan prasekolah bagi anak yang berusia 2 sampai 4 tahun. Selain itu KB adalah satu bentuk pendidikan anak usia dini pada jalur nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus program kesejahteraan bagi anak. Pada kelompok bermain ini anak dapat distimulasi perkembangannya melalui berbagai cara, salah satunya adalah melalui bercerita. Hal¬-hal yang perlu dilakukan dalam bercerita adalah sebagai berikut :
Menentukan tujuan dan tema
Contoh penerapannya :
Tema : Berbagi
Tujuan : Membangun sikap peduli
Membangun sikap anak untuk berbagi sejak dini.
Mengajarkan anak tentang bagaimana bersikap ikhlas dalam berbagi kepada sesama.
Menentukan bentuk bercerita yang dipilih
Setelah menentukan tema dan tujuan bercerita, langkah selanjutnya adalah menentukan bentuk bercerita yang cocok atau sesuai dengan tema dan tujuan yang telah ditentukan sebelumya. Bentuk bercerita yang dapat dipilih adalah menggunakan ilustrasi gambar dari buku.
Menetapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam bercerita
Alat dan bahan yang digunakan harus sesuai dengan bentuk bercerita. Alat dan bahan yang akan digunakan dalam bercerita adalah ilustrasi gambar anak yang sedang membagikan kue kepada temannya. Gambarnya yang digunakan sebaiknya cukup besar, berwarna, menarik dan lucu.
Menetapkan rancangan penilaian kegiatan bercerita
• Guru mengkomunikasikan tujuan dan tema cerita tentang berbagi.
• Guru mengatur tempat duduk. Anak-anak duduk membentuk setengah lingkaran dan guru menghadap pada anak-anak.
• Guru melaksanakan kegiatan pembukaan dengan memberikan apresiasi tentang berbagi.
• Guru mengembangkan cerita
• Menetapkan teknik bertutur dengan menggunakan intonasi suara yang berbeda antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain sesuai dengan karakter tokoh.
• Mengajuan pertanyaan yang berkaitan dengan isi cerita. Contoh:
“Anak-anak, siapa memberi sepotong roti pada Dina??”
“Maukah Dina mebagi sepotong roti dengan Ani??”
” Apa yang diucapkan Ani, pada Dina??”
3. Contoh penerapan dan aplikasi bercerita usia Tempat Penitipan Anak (0-2 tahun)
Taman Penitipan Anak (TPA) adalah salah satu bentuk PAUD pada jalur pendidikan nonformal sebagai wahana kesejahteraan yang berfungsi sebagai pengganti keluarga untuk jangka waktu tertentu bagi anak yang orang tuanya bekerja. TPA menyelenggarakan program pendidikan sekaligus pengasuhan terhadap anak sejak lahir sampai usia 2 tahun.
Penerapan strategi pembelajaran melalui bercerita pada TPA dapat diberikan pada anak yang usianya 2 tahun. Untuk usia dibawah 2 tahun masih sulit diterapkan. Hal-¬hal yang perlu diperhatikan :
a. Menentukan tujuan dan tema
Contoh penerapannya :
Tema : Binatang
Tujuan : Mengenalkan nama dan suara binatang
Mengembangkan kemampuan bahasa anak
b. Menentukan bentuk bercerita yang dipilih
Bentuk bercerita yang dapat dipilih dalam kegiatan bercerita pada TPA harus sesuai dengan tema dan tujuan cerita. Pada tema binatang ini dipilih bentuk bercerita menggunakan boneka. Guru ( teachers ) memilih boneka dengan bentuk hewan kucing dan bebek.
c. Menetapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam bercerita
Alat dan bahan yang digunakan dalam tema binatang ini adalah panggung boneka dan boneka binatang dengan bentuk hewan kucing dan bebek.
d. Menetapkan rancangan dan langkah-langkah bercerita
- Mengatur tempat duduk
- Anak-anak duduk membentuk lingkaran
• Kegiatan pembukaan
Pendidik memberikan pertanyaan pada anak. Misalnya, “Anak-anak siapa yang pemah melihat kucing?”. Kalau kucing suaranya bagaimana? “meong-meong”.
• Pengembangan cerita
Pendidik mengembangkan cerita dengan menarik dan lucu agar anak dapat memusatkan perhatiannya.
• Menetapkan teknik bertutur
Karakter suara pada tokoh kucing dan bebek harus berbeda dan sesuai dengan perwatakan antara masimg-masing tokoh. Kata-kata yang digunakan sederhana dan mudah dipahami oleh anak. Durasi bercerita pendek.
Tujuan kegiatan bercerita bagi anak, yaitu :
1) Menanamkan pesan-pesan atau nilai-nilai sosial, moral dan agama yang terkandung dalam sebuah cerita, sehingga mereka dapat menghayati dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.
2) Guru dapat memberikan informasi tentang lingkungan yang memang perlu diketahui oleh anak.
Manfaat bercerita bagi anak :
1) Menenamkan pesan-pesan atau nilai-nilai sosial, moral dan agama
2) Memberikan sejumlah pengetahuan dan pengalaman
3) Mengembangkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor
4) Mengembangkan imajinasi anak
5) Mengembangkan dimensi perasaan anak
6) Membantu anak membangun bermacam peran yang mungkin dipilih anak sesuai karakter yang diinginkan
7) Mempengaruhi cara berfikir dan perilaku anak karena anak senang mendengarkan cerita walaupun cerita dibacakan berulang-ulang
KESIMPULAN
Berdasarkan data-data di atas pelaksanaan strategi melalui bercerita di PAUD adalah Penerapan strategi pembelajaran melalui bercerita pada usia PAUD dilakukan untuk merangsang perkembangan kemampuan bahasa anak, melatih dan membentuk ketrampilan berbicara secara sederhana, daya nalar, kognitif dan pengembangan imajinasi anak. Bercerita dapat disertai gambau maupun dalam bentuk lainnya, seperti panggung boneka. Cerita sebaiknya diberikan secara menarik dan membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan memberikan tanggapan setelah cerita selesai
Menurut kelompok kami strategi pembelajaran melelui bercerita dengan model konstruktivistik baik karena pada usia ini anak mampu menggunakan inderanya.
DAFTAR PUSTAKA
Masitoh, 2008. Macam-Macam Metode Pembelajaran
Bachri, Bahtiar S, 2005
http//:www.google.co.id
Moeslichatoen, 1996. Macam-Macam Teknik Bercerita
Tim Penyusun:
HOSEIMAH
IDA PUSPITA SARI
JAMILAH
KAMILATUN HASANAH
Related Posts
- Pembentukan Perilaku Masyarakat Sadar Lingkungan
- Teori perkembangan kognitif Jean Piaget
- Metode pembelajaran bermain
- Strategi & metode pengembangan kegiatan pembelajaran PAUD
- PRAKTIK PEMBELAJARAN CONSTRUCTIVISME PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI SECARA HOLISTIK: SUATU TINJAUAN KRITIS
Tags: anak > bercerita > constructivism > konstruktivistik > paud > strategi > tk
Comments
Leave a Reply